Translate

Kamis, 03 Juli 2014

Jaga lisan

"kata-kata yang belum keluar dari lisanmu itu masih menjadi milik mu, tetapi kata-kata yang telah terlontar dari mulutmu itu sudah bukan lagi jadi milik mu tapi sudah menjadi milik orang lain"

Maka berhati-hatilah dengan kata2 yg telah terucap, sebab bisa menyebabkan orang bahagia dan senang tapi juga bisa menjadi tersinggung, marah atau menimbulkan kebencian.

Perhatikanlah kata-kata yang terucap, sebab yang diikat dari diri kita bukan tangan kita, akan tetapi dari ucapan kita. Dalam sebuah kata hikmah disebutkan "Jikalau pedang lukai tubuh, masih kan ada harapan sembuh. Tapi jikalau lidah lukai hati, kemana obat hendak dicari".


Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra, Rasulullah bersabda "Keimanan seorang hamba tidak akan lurus sebelum lurus hatinya, dan hatinya tidak akan lurus sebelum lurus lisannya"

Jadi lisan yang menjadi kunci pokok akan lurusnya hati seseorang. Demikian pula Umar bin Khattab ra berkata : "barang siapa yang banyak bicaranya banyak kekeliruannya, barang siapabanyak kekeliruannya banyak dosanya, dan barang siapa banyak dosanya maka neraka adalah tempat yang pantas baginya"

Olehnya jagalah lisan-lisan kita, sebab nilai diri kita tergantung dari apa yang keluar dari lisan kita. Memang lidah tak bertulang (walau sebenarnya dalam biologi lidah mempunyai tulang rawan), memang kata-kata yang terlontar dari lisan begitu mudah dan enteng, namun dampaknya sangat dahsyat, diriwayatkan oleh imam Tirmidzi : "sesungguhnya ada seseorang yang mengucapkan kalimat yang ia anggap biasa tetapi karenanya ia terjun keneraka sejauh tujuh puluh tahun"

Selasa, 01 Juli 2014

OH KEBAHAGIAN, DI MANAKAH GERANGAN?

OH KEBAHAGIAN, DI MANAKAH GERANGAN?
Seharian ini aku tidak mendapatkan sesuatu apapun melainkan kehidupan yang penuh dengan senda gurau dan jauh dari pengajaran agama Islam. Angin terasa membalutku dan mencabut akar thuma`ninah dan ketenangan dari dasar jiwaku, gelombang mendorongku dan melemparkanku sehingga aku oleng ke kanan dan ke kiri. Satu jam mendengarkan lagu-lagu yang tak senonoh, satu jam akalku dicuri oleh pembicaraan yang sia-sia, satu jam membolak-balik buku yang tidak ada hubungannya dengan Islam atau majalah-majalah mungkar milik syaitan-syaitan dari jenis manusia…
Semua itu tidak menambah hidupku melainkan waktu kosong dan rasa bosan. Tiada henti-hentinya kesempitan dalam jiwaku bertambah dan hampir saja hal itu membunuh jiwaku…
Maka akupun berusaha mencari obat … mencari pengganti dari kehidupan yang tidak kuridhai untuk diriku sendiri.
Dan mulailah aku membolak-balik lembaran hari-hari yang lewat seperti lewatnya awan…
Dalam keadaan yang demikian dan berbagai pikiran yang berdesak-desakan di angan-anganku, aku ingat sesuatu yang telah lenyap dari diriku beberapa masa …
Maka aku bersegera pergi kepadanya, aku pegang Al-Qur'an yang mulia dan kudekap dalam dadaku dengan penuh rasa rindu yang mengalir dalam jiwaku.
Aku dekap dengan kuat seakan-akan aku ingin memasukkannya ke dalam hatiku
Air mata mengaliri kedua mataku … bersama Kitabullah kedua mataku melihat kilauan cahaya dan kudapati di sana bahwa tidak ada kehidupan yang hakiki tanpa berpegang teguh dengan Islam dan bahwa sumber kebahagiaan manusia adalah iman kepada Allah.
Wahai orang yang mencari kebahagiaan… mencari ketenangan jiwa …. Mencari tuma'ninah… mencari makna kehidupan ….
Janganlah menjauh …. Engkau akan menemukan barang buruanmu berada di depanmu …
Di dalam Al-Qur'an Al-Karim … dalam pengajaran agama …
Allah Ta'ala berfirman : "Dan Kami turunkan dari Al-Qur'an itu suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman"

Mimpi Basah Ketika Puasa

Ada sebuah pertanyaan yang diajukan pada Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah[1], “Jika orang yang berpuasa mimpi basah di siang hari bulan Ramadhan, apakah puasanya batal? Apakah dia wajib untuk bersegera untuk mandi wajib?”

Beliau rahimahullah menjawab,
“Mimpi basah tidak membatalkan puasa karena mimpi basah dilakukan bukan atas pilihan orang yang berpuasa. Ia punya keharusan untuk mandi wajib (mandi junub) jika ia melihat yang basah adalah air mani. Jika ia mimpi basah setelah shalat shubuh dan ia mengakhirkan mandi junub sampai waktu zhuhur, maka itu tidak mengapa.
Begitu pula jika ia berhubungan intim dengan istrinya di malam hari dan ia tidak mandi kecuali setelah masuk Shubuh, maka seperti itu tidak mengapa. Mengenai hal ini diterangkan dalam hadits yang shahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah masuk Shubuh dalam keadaan junub karena sehabis berhubungan intim dengan istrinya. Kemudian beliau mandi junub dan masih tetap berpuasa.
Begitu pula wanita haidh dan nifas, jika mereka telah suci di malam hari dan ia belum mandi melainkan setelah masuk Shubuh, maka seperti itu tidak mengapa. Jika mereka berpuasa, puasanya tetap sah. Namun tidak boleh bagi mereka-mereka tadi menunda mandi wajib (mandi junub) dan menunda shalat hingga terbit matahari. Bahkan mereka harus menyegerakan mandi wajib sebelum terbit matahari agar mereka dapat mengerjakan shalat tepat pada waktunya.
Sedangkan bagi kaum pria, ia harus segera mandi wajib sebelum shalat Shubuh sehingga ia bisa melaksanakan shalat secara berjama’ah. Sedangkan untuk wanita haidh dan nifas yang ia suci di tengah malam (dan masih waktu Isya’, pen), maka hendaklah ia menyegerakan mandi wajib sehingga ia bisa melaksanakan shalat Maghrib dan Isya’ sekaligus di malam itu. Demikian fatwa sekelompok sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Begitu pula jika wanita haidh dan nifas suci di waktu ‘Ashar, maka wajib bagi mereka untuk segera mandi wajib sehingga mereka bisa melaksanakan shalat Zhuhur dan Ashar sebelum tenggelamnya matahari.
Wallahu waliyyut taufiq.
Demikian Fatwa Syaikh Ibnu Baz rahimahullah.[2]
***
Hadits yang menerangkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah masuk shubuh dalam keadaan junub adalah sebagai berikut.
Dari ‘Aisyah dan Ummu Salamah radhiyallahu ‘anhuma, mereka berkata,
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يُدْرِكُهُ الْفَجْرُ وَهُوَ جُنُبٌ مِنْ أَهْلِهِ ، ثُمَّ يَغْتَسِلُ وَيَصُومُ
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendapati waktu fajar (waktu Shubuh) dalam keadaan junub karena bersetubuh dengan istrinya, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi dan tetap berpuasa.[3]
Istri tercinta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,
قَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُدْرِكُهُ الْفَجْرُ فِى رَمَضَانَ وَهُوَ جُنُبٌ مِنْ غَيْرِ حُلُمٍ فَيَغْتَسِلُ وَيَصُومُ.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjumpai waktu fajar di bulan Ramadhan dalam keadaan junub bukan karena mimpi basah, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi dan tetap berpuasa.[4]
Pelajaran yang bisa diambil dari fatwa di atas:
  1. Mimpi basah tidak membatalkan puasa karena bukan pilihan seseorang untuk mimpi basah.
  2. Jika mimpi basahnya setelah waktu Shubuh, maka orang yang junub boleh menunda mandi wajibnya hingga waktu Zhuhur.
  3. Jika junub karena mimpi basah atau hubungan intim dengan istri di malam hari, maka bagi pria yang wajib menunaikan shalat berjama’ah diharuskan segera mandi wajib sebelum pelaksanaan shalat Shubuh agar ia dapat menunaikan shalat Shubuh secara berjama’ah di masjid.
  4. Jika wanita suci di malam hari dan setelah berakhir waktu shalat isya’ (setelah pertengahan malam[5]), maka ia boleh menunda mandi wajib hingga waktu Shubuh asalkan sebelum matahari terbit supaya ia dapat melaksanakn shalat Shubuh tepat waktu.
  5. Jika wanita haidh dan nifas suci di waktu Isya’ (sampai pertengahan malam), maka ia diharuskan segera mandi, lalu ia mengerjakan shalat Maghrib dan Isya’ sekaligus. Demikian fatwa sebagian sahabat. Begitu pula jika wanita haidh dan nifas suci di waktu Ashar, maka ia diharuskan segera mandi, lalu ia mengerjakan shalat Zhuhur dan Ashar sekaligus.
  6. Jika orang yang junub, wanita haidh dan nifas masuk waktu Shubuh dalam keadaan belum mandi wajib, maka mereka tetap sah melakukan puasa.
Mengenai permasalah wanita haidh dan nifas yang suci di waktu shalat kedua, seperti waktu Ashar dan Isya’ lantas ia diwajibkan mengerjakan dua shalat sekaligus (Zhuhur dan Ashar atau Maghrib dan Isya’), insya Allah ada tulisan tersendiri mengenai hal ini. Semoga Allah mudahkan.

Diselesaikan di Pangukan-Sleman, 23 Sya’ban 1431 H (4 Agustus 2010)
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Sember Artikel www.rumaysho.com

Minggu, 29 Juni 2014

MENGGAPAI PUASA SEJATI

MENGGAPAI PUASA SEJATI
Dr. Muhammad Abdullah al-Habdān
Bersamaan dengan kedatangan bulan Ramaḍhān yang penuh berkah, umat Islam pun bersiap diri untuk menjalankan ibadah puasa. Masing-masing akan beroleh imbalan dan pahala puasanya sebesar niat, kesungguhan, dan usahanya. Perbedaan mutu dan tingkat kesungguhan dalam memaksimalkan potensi Ramaḍān bukan suatu kemustahilan, tetapi fakta yang terjadi di tengah umat.
Siapa yang kurang sempurna dalam mengisi Ramaḍān, maka pahala yang didapatkannya pun akan tidak sempurna; Siapa yang mengisinya dengan sungguh-sungguh namun sekedar memenuhi kewajiban, maka pahalanya pun sesuai dengan usaha yang telah dilakukannya; Dan siapa yang mempuasakan bulan Ramaḍān dengan penuh keimanan dan keikhlasan, maka merekalah yang mukmin sejati yang akan menjadi pemenang di ujung Ramaḍān.
Puasa sejati tidak hanya sekedar menahan diri dari makan dan minum serta kecendrungan seksual, tetapi juga mencakup berbagai hal yang menjadi syarat untuk meraih kemenangan dan pahala yang sempurna.
Yang terpenting dari berbagai hal itu, antara lain ialah:
1. Menjaga lidah; karena berbagai bala berawal dari lidah. Rasulullah bersabda dalam sebuah hadits sahih,
مَنْكَانَيُؤْمِنُبِاللَّهِوَالْيَوْمِالْآخِرِفَلْيَقُلْخَيْرًاأَوْلِيَصْمُتْ
“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata baik atau diam!” (H.R. Bukhari, Muslim).
Betapa banyak kata-kata yang [ saking tak elok lafalnya] seolah berkata kepada orang yang mengucapkannya tinggalkan saya! Oleh karena itu hendaklah masing-masing kita menahan lidahnya dari ucapan sia-sia, dari perkataan keji, dari menciptakan kebisingan, berdebat tanpa hak, ghibah, namimah, kata-kata bohong, kesaksian palsu, kebohongan publik, mengolok-olok, dan bersumpah palsu.
Rasulullah telah bersabda,
رُبَّصَائِمٍحَظُّهُمِنْصِيَامِهِالْجُوعُوَالْعَطَشُوَرُبَّقَائِمٍحَظُّهُمِنْقِيَامِهِالسَّهَرُ
“Betapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya selain lapar, betapa banya orang yang melakukan qiamul lail tidak mendapatkan apa-apa dari qiamul lailnya selain bergadang.” (H.R. An-Nasā`i). Beliau juga telah bersabda,
إِذَاكَانَيَوْمُصَوْمِأَحَدِكُمْفَلَايَرْفُثْوَلَايَجْهَلْفَإِنْجَهِلَعَلَيْهِأَحَدٌفَلْيَقُلْإِنِّيامْرُؤٌصَائِمٌ
“Jika seseorang pada suatu hari berpuasa, janganlah dia berbuat rafaṡ (berkata-kata kotor), jangan berbuat fasik, jangan berbuat jahil. Jika ada yang mencacinya hendaklah dia mengatakan, ‘Sesungguhnya saya berpuasa!’” (H.R. Ahmad)
Beliau juga bersabda,
مَنْلَمْيَدَعْقَوْلَالزُّورِوَالْعَمَلَبِهِفَلَيْسَلِلَّهِحَاجَةٌفِيأَنْيَدَعَطَعَامَهُوَشَرَابَهُ
“Barang siapa yang tidak meninggalkan kata-kata dan perilaku bohong, tidak meninggalkan kejahilan, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makan dan minumnya.” (H.R. Bukhari)
2. Menahan dan menjaga pandangan, karena orang yang sebenar berpuasa ialah orang yang takut kepada Allah dalam urusan matanya, sehingga dia tidak sudi menolehkan kedua bola matanya memandang hal-hal yang diharamkan, tidak membiarkan keduanya menyeret dirinya kepada kebinasaan dan hukuman Allah, atau kepada penyakit jiwa. Hal itu karena pandangan yang haram adakalanya diikuti oleh pelakunya dengan perbuatan memuaskan nafsunya yang bergejolak akibat pandangan tersebut sehingga dia pun betul-betul melakukan perbuatan yang haram yang mengakibatkan puasanya menjadi batal; adakalanya pula dia berhenti pada sebatas memandang tanpa memenuhi dorongan yang diakibatkan pandangan tersebut.Tetapi ini akan membuat jiwanya tertekan terpaksa menahan arus deras dorongan syahwat yang ditimbulkan oleh pandangan.
Goncangan ini akan memberikan pengaruh buruk dan menimbulkan penyakit jiwa. Oleh karena itu bertakwalah kepada Allah wahai orang yang membiarkan kedua matanya memandang yang haram, sebab mata juga berzina; zina mata adalah memandang yang diharamkan.
3. Menahan telinga dari mendengarkan segala sesuatu yang tidak halal didengarkan, baik itu berupa senda gurau yang merusak, ghibah dan lain sebagainya. Kiranya cukuplah sebagai peringatan, bahwa Allah menyandingkan perilaku mendengarkan kebohongan dengan memakan harta yang haram. Allah berfirman,
“Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram....” (Q.S. al-Mā`idah, 42)
Allah juga menjadikan kecendrungan mendengarkan kebohongan dan merasa tenang dengannya sebagai bagian dari perilaku hina orang-orang Yahudi, Allah berfirman,
“Wahai Rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya dari golongan orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka, ‘Kami telah beriman,’ padahal hati mereka belum beriman; dan dari golongan orang-orang Yahudi. (Mereka, orang-orang Yahudi itu) Amat suka mendengar (berita-berita) bohong....” (Q.S. al-Mā`idah, 41).
Pun Allah berfirman tentang perihal majlis atau forum yang berisi pembicaraan yang batil,
“Maka janganlah kamu duduk beserta mereka sampai mereka membicarakan pembicaraan yang lain, karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian) maka kamu serupa dengan mereka... (Q.S. an-Nisā`, 140)
Orang yang mengatakan kebatilan dan mendengarkannya dengan senang hati (rida) sama-sama berdosa, Jābir % berkata, “Jika Anda berpuasa, maka hendaklah puasakan juga pendengaran Anda, penglihatan Anda, dan lidah Anda dari kebohongan dan segala yang diharamkan, tinggalkan perilaku menyakiti tentangga, dan hendaklah Anda bersikap tenang, jangan jadikan hari puasa dengan hari tidak berpuasa Anda sama saja.”
Puasa merupakan nikmat yang besar, nikmat yang menghapus dosa-dosa, nikmat yang meninggikan derajat, menguatkan hubungan hamba dengan Rab-nya, karena puasa adalah ibadah tersembunyi. Semakin tersembunyi sebuah ibadah semakin ia lebih dekat kepada ikhlash. Oleh karena itu jagalah dengan seksama, semoga Allah melipatgandakan pahala Anda, dan Anda sendiri akan memuji hasil yang dipetik ketika kelak menghadap Allah, hari kebahagiaan terbesar sebagaimana yang diberitakan oleh Rasulullah,
لِلصَّائِمِفَرْحَتَانِ : فَرْحَةٌعِنْدَفِطْرِهِ،وَفَرْحَةٌعِنْدَلِقَاءِرَبِّهِ (رواه البخاري)
“Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan, satukebahagiaan saat berbuka, dan satu kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rab-nya. (H.R. Bukhari)
Jika demikianlah adanya ibadah puasa, maka sudah seharusnya kita bertanya-tanya kepada diri masing-masing,
“Apakah kita merasakan kemuliaan rohani ketika menjalankan ibadah puasa?”
“Mengapa kita tidak menjadikan Ramaḍān sebagai musim membekali diri dengan kebaikan dan menitipkannya kepada rohani kita sebagai bekal perjalanan kita sepanjang tahun? Sehingga usia kita hanya berisi kebaikan, berkah, dan kemuliaan.”
Ramaḍān adalah medan perang di mana materi dan rohani berlaga, oleh karena itu jangan sampai Anda menjadi pecundang, jangan sampai perut Anda puasa menghindari makan dan minum tetapi anggota tubuh berbuka dengan melakukan maksiat. Jangan sampai Anda justru giat bergadang mengisi malam dengan film-film, permainan, senda-gurau, dan malas beribadah. Jangan sampai Anda terjerembab kepada hal-hal ini, karena itulah yang membahagian setan,yang tidak diridai Allah Yang Maha Rahman. Ingatlah selalu petuah Rasul Anda,
رُبَّصَائِمٍحَظُّهُمِنْصِيَامِهِالْجُوعُوَالْعَطَشُ(رواه أحمد)
“Betapabanyakorang yang puasa yang dia dapatkan dari puasanya hanya lapar dan haus...” (H.R. Ahmad)
Orang yang lambungnya puasa dari makanan dan minuman, organ seksualnya puasa dari syahwat, seluruh anggota tubuhnya puasa dari segala yang diharamkan, dan menunaikan semua yang disukai Allah dalam bulan ini baik itu berupa shalat, zikir, berbuat baik, dan ibadah-ibadah sunnah lainnya, sesungguhnya dialah yang mendapatkan kemenangan, dan telah menunaikan puasa Ramaḍān sebagaimana mestinya.
Semoga Allah menjadikan kita semua termasuk orang yang sungguh-sungguh dan benar-benar berpuasa.

Senin, 23 Juni 2014

PERISTIWA-PERISTIWA DI BULAN RAMADHAN

PERISTIWA-PERISTIWA DI BULAN RAMADHAN
1. Turunnya al-Qur`an
"(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran." (QS. Al-Baqarah: 185)
Dan ayat pertama kali yang turun di dalam al-Qur`an adalah [اقْرَأْ], turun pada hari Senin, di waktu malam Lailatul Qadar bulan Ramadhan, tahun 13 SH (Juli 610 M) Jumhur ulama mengatakan tangal 17 Ramadan, namun beberapa sahabat mengatakan bahwa itu terjadi pada tanggal 24, dan masih ada pendapat-pendapat lainnya. Wallahu a'lam.
2. Islamnya Khadijah , dia adalah manusia pertama yang beriman kepada Nabi , dan di dalam bulan Ramadhan pula dia wafat .
3. Sariah (pasukan perang yang tidak diikuti oleh Rasulullah ) Hamzah , bendera pertama kali yang ditegakkan oleh Rasulullah . Kejadian tersebut terjadi pada penguhujung tujuh bulan setelah hijrah beliau. Pasukan tersebut terdiri dari 30 penunggang onta, menuju pantai dan mencapai tepi laut. Mereka akan menghadang kafilah Quraisy yang datang dari Syam menuju Makkah. Diantara mereka ada Abu Jahal, terdiri dari 300 penunggang onta, merekapun bertemu, dan berbaris untuk perang. Maka berjalanlah Majdi ibn 'Amr al-Juhani di tengah-tengah mereka hingga kedua belah pihak berpisah tanpa ada peperangan.
4. Diwajibkannya zakat fitrah dan zakat yang memiliki nishab, dan disyariatkan pula shalat 'Ied (tahun ke-2 Hijriah)
5. Perintah berjihad (tahun ke-2 H)
6. Perang Badar besar (pada hari Jum'at, 17 Ramadhan, tahun ke-2 H), yang disebut al-Qur`an sebagai yaumul furqan (hari pembeda). Jumlah kaum muslimin kala itu 313 orang laki-laki, dengan satu orang penunggang kuda. Mati syahid 14 orang. Adapun orang-orang musyrik berjumlah 1000 orang; diantara mereka 80 penunggang kuda, 70 orang terbunuh, dan 70 orang lainnya tertawan. Ikut serta dalam peperang tersebut 1000 malaikat yang berbaris.
7. Masuk Islamnya delegasi Tsaqif (tahun ke-7 H)
8. Wafatnya Fathimah binti Rasulillah (tahun ke-11 H)
9. Terbunuhnya Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalif , di Kufah. Dibunuh oleh orang Khawarij, Abdurrahman bin Muljam al-Humairi, pada subuh 27 Ramadhan 40 H, sementara beliu berusia 58 tahun. Kekuasaan beliau berlangsung empat tahun, tujuh bulan dan enam hari.
10. Kemenangan terbesar (fathu Makkah) Terjadi pada tanggal 10 Ramadhan tahun ke 8 H, disebut juga fathul futuh, karena saat itu saat manusia masuk berbondong-bondong ke dalam agama Islam sebagai pengaruh dari fathu Makkah. Pada peristiwa itu Abu Sufyan dan sejumlah tokoh-tokoh Quraisy masuk Islam. Di dalamnya diperintahkan untuk menghancurkan berhala di sekitar Ka'bah.
11. Kematian Ummul Mukminin Aisyah (58 H)
12. Terjadinya peperangan Balathus Syuhada` (Nisan Para Syahid) (114 H, Oktober 732 M) di dataran Perancis di atas tepi sungai Liwar, yang mana kaum muslimin dikomandoi oleh Abdurrahnman al-Ghafiqi. Pada peperangan tersebut kaum muslimin mengalami kerugian, dan itu adalah usaha terakhir yang dilakukan oleh khilafah dalam membuka negeri Barat untuk menyampaikan Islam kepadanya.
13. Peperangan Ain Jalut (658 H, 6 September 1260 M) yang dimenangkan oleh kaum muslimin yang dipimpin oleh Raja Mudzaffar atas Tartar yang tidak ada bandingannya kala itu, sejak mereka mulai menyerbu Negeri Timur Islam

KEMATIAN MENAKJUBKAN

KEMATIAN MENAKJUBKAN
Oleh: Ahmad bin Shalih az-Zahraniy
Aku tidak suka pada kematian, dan kita semua tidak menyukainya karena berbagai faktor. Mungkin diantara faktornya adalah: merasa sulit menghadapi apa yang terjadi setelah kematian, merasa punya banyak kelalaian dan berat meninggalkan orang-orang yang dikasihi.
Walaupun demikian, namun aku merasa bahwa kematian itu menakjubkan, karena ia dapat membuktikan hakikat sesuatu dan membongkar kepalsuan.
Seberapapun keras, kaku, dan congkaknya manusia, maka seluruh kekuatannya akan hilang sekejap di hadapan kekuatan maut dan keangkuhannya. Lihatlah Fir’aun yang dengan congkaknya mengatakan pada rakyatnya, “Aku tidak mengetahui ada Tuhan bagi kalian selain aku”, dan ia memperlakukan Bani Isra’il dengan berbagai kezhaliman sampai di saat-saat ia melihat kematian di hadapannya, maka ia berkata sebagaimana dikisahkan ALLAH Ta'ala:
“Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil" (QS. Yunus: 90).
Sejarah kehidupan umat manusia telah menyaksikan banyak raja Fir’aun, sebagian mereka menjadi Fir’aun karena kekuasaannya, sebagian karena ilmu dan retorikanya, semuanya itu adalah orang-orang angkuh dan enggan menerima kebenaran serta berdalih dengan Fir’aun yang pertama, mereka sama-sama berada dalam kedurhakaan dan larut dalam kebathilan padahal kebenaran telah jelas bagi mereka:
...
“Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran)-nya” (QS. An-Naml: 14).
Pemberitaan Al-Qur’an menunjukkan perihal mereka di sejumlah ayat, seperti Firman ALLAH Ta'ala:
“Maka biarkanlah mereka tenggelam (dalam kebathilan) dan bermain-main sampai mereka menjumpai Hari yang diancamkan kepada mereka” (QS. Al-Ma’arij: 42).
Ya benar, sungguh penyimpangan berpikir dan akhlak pada zaman kita sekarang ini telah sampai pada kondisi yang sangat memprihatinkan, sehingga orang-orang menyimpang berlomba-lomba melakukan hal yang paling aneh, sehingga namanya pun selalu masuk dalam daftar orang-orang yang menggeluti penyimpangan.
Sungguh penyimpangan dalam berpikir tidak dapat dikendalikan.
Para generasi awal telah berusaha sekuat tenaga untuk mengendalikan penyimpangan ini dengan bersikap tegas dan keras, namun para pelaku penyimpangan ini tetap saja ada, padahal telah ditulis berbagai karya dan tulisan, baik yang panjang maupun yang ringkas, namun tetap saja mereka eksis adanya.
Sebenarnya mereka telah diusir, diasingkan, dan diboikot akan tetapi tetap saja mereka mempertahankan penyimpangan mereka.
Satu hal saja yang dapat membuat kecil keyakinan baja dan menghancurkan kunci hati mereka sebagaimana hancurnya hati Fir’aun sehingga pada saat itu tidak ada lagi penghalang untuk menerima kebenaran. Tahukah Anda apa itu?:
Dia adalah kematian.
Semua mereka yang enggan menerima kebenaran yang datang dari Nabi #, baik itu orang-orang kafir, munafik, atau orang-orang yang memiliki metode pemikiran yang menyimpang; bila mereka semua sudah menghadapi kematian, maka akan terbuka bagi mereka hakikat yang sebenarnya dan mereka akan mengakuinya. ALLAH Ta'ala ber-Firman:
• ...
“Tidak ada seorangpun dari Ahlul Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya” (QS. An-Nisaa`: 159).
Tapi yang disayangkan, karena pengakuan tersebut sudah terlambat dan tidak lagi bermanfaat; pengakuan yang keluar saat telah diangkat beban tanggung jawab dan saat berakhirnya masa ujian.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Dan engkau akan dapati mayoritas mereka yang keluar dari manhaj Salaf, baik itu para penganut ilmu Kalam atau tarikat Shufi, mereka mengakui hakikat kebenaran saat mereka mati atau sebelumnya”. Dan kisah tentang hal tersebut sangat banyak sekali. Contohnya Abul Hasan al-Asy’ariy * yang tumbuh dalam lingkungan Mu’tazilah selama 40 tahun, kemudian ia meninggalkannya dan berbalik menghukumi sesat aliran Mu’tazilah serta membantah mereka dengan bantahan yang sangat keras sekali.
Contoh lain adalah Abu Hamid al-Ghazaliy , dengan kecerdasan luar biasa yang dimilikinya, keahliannya dalam ilmu Kalam, ibadahnya, filsafat, meniti jalan ke-zuhud-an, olah batin dan Tasawwuf, beliau akhirnya berhenti dari semua itu dan mengalami kebingungan, kemudian akhirnya beliau mengikuti jalan para pakar Kasyaf, walaupun akhirnya setelah itu beliau kembali pada jalannya Ahli Hadits dan beliau menulis satu kitab yang bernama Iljam al-‘Awwam ‘an ‘Ilm al-Kalam.
Ada juga kisah tentang Imam al-Haramain yang meninggalkan seluruh apa yang diikuti dan ditetapkannya kemudian memilih madzhab Salaf dan beliau berkata saat wafatnya: “Aku telah mengarungi lautan berbahaya dan aku tinggalkan penganut Islam dan segala ilmu yang mereka miliki, lantas aku geluti perkara yang mereka larang aku untuk memasukinya. Dan sekarang jika Rabb-ku tidak menolongku dengan rahmat-Nya maka sungguh kebinasan yang akan menimpa Ibn Al-Juwainiy. Inilah aku, sekarang aku akan mati dalam kondisi mengikuti aqidah Ibuku”. Atau dalam riwayat lain beliau mengatakan “... dalam kondisi mengikuti aqidah orang terdahulu dari penduduk Naisabur”.
Begitu juga dengan Abu Abdillah Muhammad bin Abdul Karim asy-Syahrustaniy *, beliau mengabarkan bahwa ia tidak menemukan dalam filsafat dan ilmu Kalam melainkan kebingungan dan penyesalan.
Dan orang yang hadir saat kematian Imamnya pakar Mantiq di zamannya al-Khaunajiy, penulis kitab Al-Mujaz dan Kasyf al-Asrar serta kitab lainnya, bahwa ia berkata saat kematiannya: “Aku mati dan tidak mengetahui apa-apa melainkan pengetahuanku bahwa sesuatu yang mungkin itu butuh pada hal yang wajib”. Kemudian beliau berkata: “Butuh merupakan sifat negatif, aku mati dan tidak mengetahui apa-apa”.
Dan masih banyak lagi kisah lain selain ini. Semua mereka yang terang-terangan melakukan penyelewengan pemikiran dan melakukan pembangkangan serta kedurhakaan seperti wanita yang mencari jodoh melalui kemitraan itu; semua mereka akan kolaps (hancur) ketika mengalami awal Sakaratul Maut, dan pada saat itu mereka mengetahui bahwa lampu-lampu stasiun televisi, kilatan kamera, berita utama surat kabar, dan tepuk tangan orang-orang bodoh tidak dapat menolong dan membantu mereka.
Pada saat itu kebenaran akan terungkap di hadapan mereka; kebenaran yang dirindukan untuk kembali padanya dengan ide baru dan pengetahuan tajam.
Namun telah datang waktunya penyesalan:
“Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada Hari itu amat tajam”. (QS. Qaaf: 22).
Hidup ini sangat singkat betapa pun lamanya….
Jika perilaku dan perkataan orang-orang yang menyimpang dari para penulis di surat kabar, budayawan penganut paham Barat dan para pemilik hati yang ragu, bimbang serta ingkar maka mari kita dengungkan Firman ALLAH Ta'ala:
... ...
“... biarkanlah mereka tenggelam (dalam kebathilan) dan bermain-main”
(QS. Al-Ma’arij: 42).

Mengapa bahasa, perawakan tubuh dan warna kulit kita berbeda-beda padahal kita berasal dari satu manusia yaitu bapak kita Adam Alaihissalam?

BUKANKAH KITA DARI ASAL YANG SAMA YAKNI ADAM ALAIHISSALAM
Pertanyaan: Assalamu'alaikum. Mengapa bahasa, perawakan tubuh dan warna kulit kita berbeda-beda padahal kita berasal dari satu manusia yaitu bapak kita Adam Alaihissalam? Terima kasih.
Al-Fath, di Kendari – Sulawesi.
Jawaban:
Wa'alaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh.
Alasannya adalah karena manusia butuh mengenali satu sama lain. Kalau semua manusia sama maka sulit bagi kita menjalani hidup ini. Coba bayangkan bila di depan kita ada dua orang saudara kembar maka kita akan kesulitan membedakannya. Bagaimana pula dengan seorang guru bila ia masuk kelas dan ia dapati semua muridnya sama, bagaimana ia bisa membedakan mereka?
Juga, bagaimana seseorang akan menikahi wanita yang sama dengan ibu atau saudari perempuannya. Semua itu memotivasi kita untuk memikirkan dan men-tadabburi-nya. Diantara hikmah dari perbedaan itu juga adalah agar kita bisa membedakan antara penjahat dengan orang baik yang patut dihormati. Dari sini kita menyadari bahwa perbedaan antara manusia merupakan kelembutan ALLAH Ta'ala kepada mereka, karena mereka butuh perbedaan tersebut.
Oleh karenanya kita tidak banyak mendapatkan perbedaan di kalangan binatang karena persamaan mereka tidak berdampak buruk; sehingga kita dapati mayoritas ayam sama bentuknya, begitu juga dengan kambing, sapi, dan lain sebagainya. Demikianlah penjelasan singkat dan sederhana ini. Wallahu a’lam.